Manusia Memerlukan Spiritual Tinggi

 

 

Spritual dalam Kehidupan Manusia

           

            Ketika umur sekarang sudah terus bertambah mugkin muncul suatu pertanyaan pada diri kita, “mengapa kita sudah bertuhan sejak lahir? Iya mengapa? Memangnya kita sudah paham dan mengerti saat itu mengapa kita harus bertuhan?” dan sampai sekarang pun mungkin masih terbenak pertanyaan “dari lahir sampai sekarang Tuhan kita tetap sama ya?” pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin sangat menghantui pemikiran dewasa kita sehingga kita mampu untuk menjawabnya pada saat sekarang. Jika kita perhatikan terdapat kata “spiritual” yang berhubungan dengan rohani dan bathin dalam diri kita, namun ap aarti dari kata spiritual ini? Doe (dalam Muntohar, 2010: 36) mengartikan bahwa spiritualitas adalah dasar bagi tumbuhnya harga diri, nilai-nilai, moral dan rasa memiliki. Spiritualitas memberi arah dan arti pada kehidupan.

 

Mengapa Manusia Memerlukan Spiritual?

 

            Setiap manusia di muka bumi ini pasti memiliki pengalaman yang tersendiri dalam hal merasakan kehadiran Tuhan. Pengalaman bertuhan dapat menjadi bagian yang sangat erat dan mempengaruhi kepribadian seseorang. Meskipun demikian, dalam kehidupan modern saat ini, orientasi kehidupan yang lebih menekankan aspek fisik-material telah menjadikan aspek keberagamaan dan spiritualitas terpojok ke wilayah pinggiran. Konsep modernisasi sekarang sangat terlihat di dalam kehidupan social kita seperti halnya, dikarenakan kehidupan manusia di masa modernisasi saat ini menjadikan manusia sebagai manusia yang individualis, materialis, hedonis, konsumtif dan lainnya mungkin membuat manusia lali akan pengalaman bertuhan yang ia alami. Akibatnya, manusia modern banyak kehilangan kehangatan spiritual, ketenangan, dan kedamaian. Dengan demikian kesadaran spiritual, kesadaran rohani dan kesadaran ketuhanan adalah pemahaman yang dilandasi dengan pemaknaan terdalam tentang keteuntuan Tuhan dalam alam semesta, wahyu sebagai inspirasi universal, dan malaikat sebagai energei kebenaran dan kebaikan.

Manusia memiliki kesadaran spritial akan berkarakter, ciri-cirinya sebagai berikut:

a.         Mengakui kebesaran dan keagungan Tuhan yang diwujudkan dengan berbagai cara.

b.         Menyadari bahwa dunia serta isinya adalah ciptaan Tuhan

c.         Manusia dianugerahi akal dan budi yang dapat dikembangkan secara maksimal

d.         Manusia memiliki keterbatasan yang kadang sukar dijelaskan

 

Bagaimana Tuhan dapat dirasakan kehadirannya dalam Perspektif Psikologis?

            Sebagai seorang mahkluk yang bertuhan pastinya kita dapa merasakan bagaimana rasa kehadiran Tuhan dalam kehidupan sehari-hari, namun mari kita bahas berdasarkan perspektif psikologis terlebih dahulu. Jika kita dapat merasakan banyak sekali kegiatan sehari-hari kita yang memang menyadarkan diri kita pribadi bahwa ini semua adalah bukti dari kehiadiran Tuhan pada kita sebagai manusia yang bertuhan, dalam kehidupan kita juga terdapat roh yang mejadi pengantar rasa kepekaan kita terhadap bukti kehadiran Tuhan di sekitar kita. Faktanya, melalui kajian neurosains, bakat bertuhan dapat dicari jejaknya dalam bagian-bagian otak yang diangap terkait dengan kecerdasan spiritual. Paling tidak terdapat empat penelitian di bidang neurosains yang mendukung hipotesis bahwa dalam diri manusia terdapat hardware Tuhan. Pertama, penelitian terhadap osilasi 40 hz yang kemudian melahirkan kecerdasan spiritualnya Danah Zohar. Kedua, penelitian tentang alam bawah sadar yang melahirkan teori tentang suara hati dan EQ. Ketiga, penemuan God spot dalam temporal di sekitar pelipis. Keempat, kajian tentang somatic maker. Didukung juga dengan banyaknya pengalaman-pengalaman yang kita rasakan dalam kehidupan sehari-hari pengalaman seperti ini menyadarkan manusia bahwa ada aspek-aspek dari realitas yang dihadapi, yang masih menjadi misteri dan belum dipahaminya. Pengalaman seperti ini disebut dengan pengalaman eksistensial.

            Didukung juga dengan banyaknya pengalaman-pengalaman yang kita rasakan dalam kehidupan sehari-hari pengalaman seperti ini menyadarkan manusia bahwa ada aspek-aspek dari realitas yang dihadapi, yang masih menjadi misteri dan belum dipahaminya. Pengalaman seperti ini disebut dengan pengalaman eksistensial.Selain pengalaman nyata sehari-hari, ada pengalaman lain yang membuat manusia terbuka kepada sesuatu yang gaib. Pengalaman ini adalah pengalaman batin, ketika seseorang berada dalam kondisi fokus sehingga seolah-olah ia menyatu dengan peristiwa atau fenomena yang dialaminya. Ia bukanlah pengalaman rasional melainkan pengalaman dengan otak supersadar (intuisi). Pengalaman seperti ini disebut dengan pengalaman mistik

 

Membangun Kepercayaan tentang Cara Manusia Meyakini dan Mengimani Tuhan

 

            Mengingat Tuhan adalah zat yang gaib, maka kita sebagai manusia juuga tidak dapat mempresepsikan sepenuhnya. Maka kita sebagai manusia butuh cara untuk meyakini dan mengumani Tuhan melalui kreasi akalnya, menjadi sebuah ide, gagasan, dan konsep tentang Tuhan. Mencoba untuk peka terhadap sekitar kita yang memang itu semua adalah ciptaan Tuhan yang sangat indah bahkan sampai kita selalu bisa nikmatin. Orang yang memiliki keimananan kepada Allah harus dibuktikan dengan amal saleh, yang menjadi indikator praktis tentang iman tersebut. Indikator keimanan yang praktis dan terukur inilah yang bisa dijadikan patokan bagi. seseorang untuk menilai orang lain, apakah ia termasuk orang baik atau tidak baik. Nabi mengisyaratkan bahwa indikator keimanan minimal ada 73, dari yang paling sederhana seperti menyingkirkan duri di jalan umum sampai indikator yang abstrak seperti lebih mencintai Allah dan rasul-Nya dari pada yang lain.

            Iman terbentuk karena peran Tuhan dan manusia. Peran Tuhan dalam pembentukan iman terletak pada karunia-Nya berupa akal dan potensi kebertuhanan yang disebut dengan roh. Karena adanya akal dan roh inilah, manusia mempunyai potensi keimanan kepada Allah. Namun, mengingat potensi tersebut harus dipersepsi dengan cara tertentu sehingga menjadi keyakinan, maka iman pun membutuhkan peran manusia. Proses pembelajaran, pembiasaan, pengalaman. Orang yang beriman ialah orang yang berkarakter. Beriman kepada Allah berarti memiliki karakter bertuhan. Dalam bahasa agama, karakter identik dengan akhlak. Menurut Imam Ghazali, akhlak adalah bentuk jiwa yang darinya muncul sikap dan perilaku secara spontanitas dan disertai dengan perasaan nikmat dan enjoy ketika melakukannya. Oleh karena itu, orang beriman kepada Tuhan atau memiliki karakter bertuhan adalah seseorang yang meyakini Tuhan sebagai sumber kebenaran dan kebajikan tinggi.

 

 

Artikel ini disusun oleh Rizka Anjani Azzahra (1305619036), mahasiswa program studi S-1 Matematika guna untuk memenuhi tugas Mata kuliah Pendidikan Agama Islam yang diampuh oleh Dosen Bapah Suyuti, M.Pd.

Komentar